Selamat Datang di Blog Tabloid Komunitas "Padma News", perumahan Graha Padma - Semarang

Blog ini merupakan versi online dari tabloid "Padma News". Semua artikel, gambar dan foto diambil dari versi cetak. Harapan kami, setelah membaca blog ini semoga dapat menginspirasi anda untuk datang berkunjung ke lokasi perumahan kami, "Graha Padma". Sebuah mutiara di Semarang Barat, Jawa Tengah.
Hanya 5 menit dari Bandara Ahmad Yani, 20 menit ke pusat kota, 15 menit ke pintu tol Jerakah.

Konon, tinggal di Semarang bawah selalu diberi stigma 'daerah banjir' dan gersang. Mari datang dan buktikan dengan apa yang telah kami lakukan untuk mengantisipasinya :))

Kawasan permukiman ini dirancang secara profesional dengan menjaga keselarasan rumah tinggal, ruang publik (jalan, taman dll) dan lingkungan alam sekitar.

Sugeng Rawuh di Semarang, jantung Jawa Tengah.

Tampilkan postingan dengan label English Corner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label English Corner. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

Tidak Tahu Bahasa Inggris 'jalanan' ?, Berbahaya !

Mampu berbahasa Inggris ternyata harus tahu dua ragamnya, formal dan informal. Bahasa Inggris formal digunakan sebagai bahasa santun, di kantor-kantor dan di sekolah-sekolah, dalam situasi resmi, yang tidak akrab; sementara itu, bahasa Inggris informal biasanya digunakan antara orang yang akrab. Bahasa Inggris formal cenderung lebih lengkap, panjang, dan tertata rapi, sementara bahasa Inggris informal biasanaya tidak lengkap, tidak panjang, dan tidak tertata rapi: digonta-ganti, dibolak-balik, dan dipotang-potong. 'We thank you very much' adalah contoh bahasa Inggris formal, dan 'Thank you', 'Thanks', atau bahkan 'Thx' adalah contoh bahasa Inggris informal. Bahasa Inggris informal kadang disebut bahasa Inggris slang atau mari kita sebut bahasa Inggris jalanan. Bahasa Inggris jalanan biasanya mencakupi hal-hal di atas, topik-topik tabu, sumpah serapah, dan sebagainya, hal-hal yang biasanya digunakan untuk komunikasi dengan orang yang akrab atau intim. Perlukah bahasa Inggris jalanan kita kuasai?

Ada peristiwa tragis di suatu malam di jalanan di Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat, di tahun 1992. Seorang mahasiswa Jepang yang belajar di Amerika, tertembak mati gara-gara bahasa Inggris jalanan ini. Mungkin berbekal bahasa Inggris pas-pasan, suatu malam mahasiswa tersebut sedang mencari rumah temannya yang mengadakan pesta. Di kegelapan malam, terdengarlah teriakan: “FREEZE!”, namun mahasiswa tersebut tidak mengerti dan malahan mungkin berlari menghindar. Terdengar letusan senjata, dan tewaslah mahasiswa tersebut. Tragis, memang.

Sebagai aksi protes, majalah Jepang Mainichi kemudian membuat judul artikel besar-besaran:

“LEARN THESE ENGLISH WORDS OR DIE!”

(“PELAJARI KATA-KATA INI ATAU MATI!”)

dan merilis beberapa ungkapan bahasa Inggris jalanan di Amerika:

“FREEZE!”

(Meaning : “Don't move or you're dead.”)

(Makna : “Awas! Jangan bergerak!”)

“DUCK!”

(Meaning : “Something is flying toward you!”)

(Makna : “Awas! Ada yang melayang!”)

“SPREAD THEM!”

(Meaning : “Raise your hands and spread your legs!”)

(Makna : “Angkat tangan! Rentang kaki!”)

“DO YOU BANG?”

(Meaning : “Are you a gang member?”)

(Makna : “Anggota gang mana?”)

“ARE YOU IN?”

(Meaning : “Are you a member of organized crime?”)

(Makna : “Ikut anggota gang, ya?”)

Dengan kadar bahaya yang lebih ringan, ungkapan-ungkapan seperti: “Fuck you!”, “I am gonna do it”, “I've gotta go”, “I wanna do it', “I cudda done it”, dan sebagainya yang kasar atau disingkat-singkat, jangan kita gunakan kepada orang asing. Wah, kita bisa konyol atau menanggung malu, karena ungkapan-ungkapan itu hanya untuk orang yang kita akrabi. Lebih baik kita tidak mengumpat atau ungkapan menjadi: “I am going to do it”, “I have gotten it”, “I want to do it”, “I could have done it”, karena kita berbicara kepada orang asing yang mungkin kita tidak akrab, apalagi orang asing yang kita baru saja ketemu. Hal yang sama terjadi pada ungkapan “Thanks!” atau “I thank you very much!”, “Hi!” atau “Hello!” Semoga bermanfaat.

DR. Jumanto, Drs, M.Pd, penulis adalah warga Taman Anyelir L-9 No.1, Perum Graha Padma, Semarang

Selasa, 25 Oktober 2011

Takut Bicara Dengan “Bule”?


Ada banyak cara untuk bisa memperlancar bahasa Inggris kita. Salah satunya adalah dengan berbicara langsung dengan native speaker atau penutur asli yang kita temui di sekitar kita. Dengan semakin banyaknya orang asing yang ada di sekitar kita semakin banyaklah kesempatan kita untuk bisa berlatih bahasa Inggris dengan para penutur asli. Akan tetapi kesempatan yang baik ini kadang kurang dimanfaatkan karena beberapa hal yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Hal pertama yang sering terjadi adalah ketika kita melihat seorang “bule”, kita sudah beranggapan bahwa orang bule itu pasti mahir bahasa Inggris sehingga kita langsung minder. Hal ini belum tentu benar karena tidak semua negara di Eropa menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar sehari hari, misalnya Italia, Perancis, Belanda, Belgia, Jerman, Spanyol, dll. Mungkin kemampuan bahasa Inggris mereka sama seperti kita atau bahkan tidak lebih baik daripada kita.

Masalah kedua adalah bahwa kita merasa bahwa penguasaan grammar kita tidak cukup memadai. Kalau dalam percakapan sehari-hari kesalahan gramatikal itu tidak perlu dirisaukan. Yang penting apa yang kita maksud bisa diterima dengan benar oleh lawan bicara kita. Misalnya kita mau bertanya nama, kita tidak harus menggunakan struktur yang lengkap “What is your name?” tapi kita bisa pakai “Your name?” dsb.

Masalah ketiga yaitu kita tidak punya cukup banyak kosa kata /vocabulary. Untuk berbicara dengan topik yang ringan kita tidak perlu punya banyak kosa kata. Kita cukup bicara tentang hal sehari-hari misalnya cuaca. Kalaupun kita tidak tahu suatu kata kita bisa menjelaskannya dengan cara lain misalnya gerak tubuh, gambar, dll.

Masalah keempat yaitu takut salah bicara. Dalam proses pembelajaran bahasa asing, membuat kesalahan itu adalah hal yang wajar dan tidak perlu ditakuti. Dengan kita membuat kesalahan kita akan tahu yang benar. Mereka juga belum tentu mahir berbahasa Inggris. Kita bisa belajar bersama dengan mereka.

Masalah kelima adalah kita kesulitan memahami ucapan mereka karena pengucapannya tidak jelas atau terlalu cepat. Untuk masalah ini kita bisa minta mereka untuk mengulang kata/ kalimat yang kurang jelas dengan kata “Pardon?” atau “Slower please.”

Masalah terakhir adalah kita bisa memahami kata-kata mereka tapi tidak bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita. Kita tahu maksudnya tapi tidak tahu cara mengatakannya. Nah, untuk itulah kita perlu sering praktek berbicara dengan native speaker supaya kita bisa mengungkapkan apa yang ada di pikiran kita dengan spontan. tanpa harus mentranslate dulu dalam pikiran kita.

Untuk berlatih berhadapan dengan “bule”, kita bisa memenfaatkan jejaring sosial di internet seperti facebook. Kita bisa chatting dengan penutur asli di jejaring sosial tersebut. Karena kita tidak berhadapan langsung dengan orang tersebut kita tidak akan merasa grogi. Lagi pula kita punya waktu yang cukup longgar untuk mempersiapkan pertanyaan atau jawaban kita. Bahkan kita bisa memanfaatkan fasilitas kamus online apabila kita mengalami kesulitan kosa kata. Dengan demikian, kita tidak perlu canggung atau grogi kalau menghadapi “bule”. Memang ada yang bosan karena ditanya pertanyaan yang sama berkali-kali. Ada juga beberapa pertanyaan yang mereka tidak suka misalnya tentang umur, berat badan, status perkawinan,dll. Tapi kalau kita sopan biasanya mereka akan merespon dengan baik. atau mungkin kita bisa mengajarkan beberapa kata atau ekspresi dalam bahasa Indonesia kepada mereka untuk survival. Ini merupakan simbiosis mutualistis yang menguntungkan kedua belah pihak. Selamat mencoba. Wish you luck.

Kamis, 14 Juli 2011

BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS 'BALI NDESO MBANGUN DESO'



Slogan 'Bali Ndeso Mbangun Deso' yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo, dapat kita sikapi sebagai ideologi yang jika berhasil, dapat menjadi apa yang disebut oleh Roland Barthes (1957) sebagai 'mitos', yang mempengaruhi perilaku dan perikehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Tengah. Namun sebelum ke sana, jika kita cermati, ada dua aspek ideologi yang melekat dalam slogan tersebut. Dari aspek negatif, ideologi yang melekat adalah 'keterbelakangan', 'ketidakmauan untuk maju', 'melarang orang mencari nafkah di tempat lain yang lebih maju (boro)', 'mendukung slogan “mangan ora mangan yen kumpul” (makan tidak makan, asal tetap bersama di daerah)', 'mengutamakan individu kedaerahan, tidak nasionalis', dsb, dsb. Sementara itu, ideologi positifnya, di antaranya, adalah 'Memikirkan pembangunan desa, setelah menimba ilmu dan atau keterampilan di tempat lain yang lebih maju', 'Bersama-sama mengembangkan dan membangun desa tempat kelahiran kita', 'Memberdayakan desa-desa yang selama ini tertinggal', 'Mengangkat sikap, karya, dan produk desa ke tingkat global' dsb, dsb. Dalam konteks ideologi positif tersebut di atas, wacana ini penulis komunikasikan, utamanya adalah posisi bahasa Inggris dalam konteks 'Bali Ndeso Mbangun Deso'. Bagaimana kita seharusnya menyikapi penggunaan bahasa Inggris?

Deso' atau 'desa' adalah unit pemerintahan formal terkecil di Indonesia. Unit ini jika kita akui di dalam dunia moderen ini, sudah kehilangan batas teritori non-fisiknya, apalagi di dunia cybertext sekarang ini. Radio, televisi, dan bahkan internet, sudah ada baik di desa perkotaan maupun desa pelosok jauh dari keramaian. Apa yang membedakan perkembangannya? Ternyata satu hal: teks berbahasa Inggris. Pemahaman terhadapnya, atau pun kemampuan memproduksi teks tersebut adalah faktor kunci. Bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional, yang mau tidak mau (willy nilly) harus dihadapi, baik oleh individu desa perkotaan maupun individu desa terpencil.

Ada dua aspek bahasa Inggris yang selama ini dilupakan orang. Sebagai bahasa impor, bahasa Inggris telah menjadi 'momok' karena kesalahan kurikulum kita yang menuntut guru mengajarkan aspek potensial, bukan aspek aktual. Kurikulum menjadikan guru bahasa Inggris sebagai 'dewa', dan kesalahan siswa dalam belajar sebagai 'dosa' yang terus menghantui. Selama beberapa puluh tahun ke belakang, pengajaran telah diarahkan ke aspek formal, bukan fungsional. Padahal apabila bahasa Inggris diajarkan dari aspek fungsional, 'momok' tidak akan terjadi, dan kita akan lebih berani. Bagaimana bahasa Inggris harus disikapi dalam slogan di atas oleh kita orang 'ndeso'?

Pertama, masyarakat Jawa Tengah perlu menyikapi bahwa aspek fungsional dari bahasa Inggris jauh lebih penting daripada aspek formalnya. Sisi fungsional adalah sisi budaya atau pragmatiknya. Sisi formal adalah sisi gramatikal. Kesalahan budaya adalah fatal, sementara kesalahan gramatikal, tidak masalah. Penutur jati (native speakers) pun akan tinggi toleransinya kepada kita apabila gramatika kita salah. Tetapi mereka akan tersinggung atau merasa aneh jika aspek budaya mereka tidak dihiraukan. Pemahaman atas salam di malam hari 'Good evening!' (bertemu) dan 'Good night!' (berpisah) jauh lebih penting daripada, misalnya, menghafal pola kala (tenses). Kata-kata yang mengandung aspek budaya dan berkolokasi dengan 'rasa' misalnya 'taste', 'feel', 'think', 'touch', 'smell', 'like', 'enjoy', dsb, perlu kita ketahui penggunaannya. Sehingga tidak terjadi penggunaan yang 'aneh', misalnya “Lets feeling it!” (tulisan dalam boks fried chicken di sebuah restoran di Jakarta). Tulisan tersebut mengajak kita untuk menikmati ayam goreng, yang seharusnya 'Let's taste it' atau 'Let's enjoy it!'. Kita lihat kesalahan aspek fungsional pada kata 'feel' jauh lebih berisiko pragmatis daripada kesalahan aspek formalnya (kurangnya tanda ' dan sufik ing yang tidak perlu). Berbagai kesalahan juga terjadi di belahan dunia lain, di negara yang bukan berbahasa Inggris. Misalnya: 'You are invited to take advantage of the chambermaid' ('Anda diminta memanfaatkan pelayan kamar'?; tulisan di sebuah hotel di Jepang), seharusnya, misalnya: 'Please ask the chambermaid for help!' Dari contoh tersebut, yang seharusnya kita takuti adalah aspek budaya, bukan aspek gramatika yang selama ini menakutkan kita.

Aspek budaya lain yang ada dalam bahasa Inggris adalah budaya aktif. Dalam berbahasa, masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Tengah, kita menggunakan budaya pasif. Contohnya: 'Silahkan diminum!', 'Bingkisan itu telah diterima', atau 'Tangannya patah'. Dalam budaya Inggris, penutur jati cenderung mengucapkan: 'Please drink!', 'They have received the package', atau 'He broke his arm'. Dengan pengetahuan ini, kita harus berpikir dalam budaya Inggris jika kita menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, atau sebaliknya, kita harus berpikir dalam budaya Indonesia jika kita menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dengan budaya aktif inilah, sebaiknya kita lebih menekankan keterampilan aktif memproduksi bahasa Inggris, yaitu: berbicara dan menulis (encoding), tetapi tidak melupakan keterampilan pasif memahami bahasa Inggris, yaitu: menyimak dan membaca (decoding) (baca: Jumanto, Suara Merdeka, 2008).

Yang kedua, masyarakat Jawa Tengah perlu belajar bahasa Inggris dari konteks kehidupan di sekitar mereka dan yang perlu mereka dalami untuk kegiatan sehari-harinya, bukan belajar gramatika dari buku atau pun menghafal kata dari kamus. Dalam hal ini, ungkapan yang lebih santun lebih baik daripada yang informal. Penggunaan pertanyaan atau permintaan dengan 'could', 'would', ataupun 'would like' lebih baik daripada 'can', 'will', ataupun 'want'. Misalnya: 'Could I help you?', 'Would you buy something?', ataupun 'I would like you to see this', dsb, yang lebih baik daripada, misalnya, 'Can I help you?', 'Will you buy something?', ataupun 'I want you to see this', demikian juga dalam bahasa surat-menyurat. Dalam hal ini, komunikasi di arahkan ke kesantunan berbahasa dengan penutur jati, meskipun kadang gramatika kita salah, tidak perlu kita resah.

Bahasa Inggris dalam konteks 'Bali Ndeso Mbangun Deso' adalah cara pandang kita untuk menggunakan bahasa Inggris secara tepat. Dengan slogan ini, konteks 'GloCal' (= Think Global, Act Local) sangat tepat diterapkan. Orang Jawa Tengah memiliki keunikan lokal dalam bersikap, berkarya, dan berproduksi. Sikap, karya, dan produk tersebut boleh bersifat lokal, tetapi kualitas dan pasar dari sikap, karya, dan produk tersebut haruslah global. Memang dari wacana di atas, slogan 'Bali Ndeso Mbangun Deso' lebih tepat diterapkan di semua propinsi di Indonesia untuk menghadapi dunia. Mungkin nanti jika Gubernur Jawa Tengah berhasil membuat ideologi positif dalam slogan tersebut menjadi mitos sehari-hari, propinsi-propinsi lainnya pasti mengikuti. Semoga.

* Penulis adalah warga Taman Anyelir L-9 No.1, Perum Graha Padma, Semarang