Selamat Datang di Blog Tabloid Komunitas "Padma News", perumahan Graha Padma - Semarang

Blog ini merupakan versi online dari tabloid "Padma News". Semua artikel, gambar dan foto diambil dari versi cetak. Harapan kami, setelah membaca blog ini semoga dapat menginspirasi anda untuk datang berkunjung ke lokasi perumahan kami, "Graha Padma". Sebuah mutiara di Semarang Barat, Jawa Tengah.
Hanya 5 menit dari Bandara Ahmad Yani, 20 menit ke pusat kota, 15 menit ke pintu tol Jerakah.

Konon, tinggal di Semarang bawah selalu diberi stigma 'daerah banjir' dan gersang. Mari datang dan buktikan dengan apa yang telah kami lakukan untuk mengantisipasinya :))

Kawasan permukiman ini dirancang secara profesional dengan menjaga keselarasan rumah tinggal, ruang publik (jalan, taman dll) dan lingkungan alam sekitar.

Sugeng Rawuh di Semarang, jantung Jawa Tengah.

Kamis, 14 Juli 2011

One Day With Graha Padma Keep Healthy and Happy Sunday

Senam aerobik dipandu oleh Instruktur Jinoth dari Jakarta. (Sumber Foto : Dok. PT Graha Padma Internusa)


Menjadi sehat sekarang telah menjadi salah satu kebutuhan primer di masyarakat. Terlebih lagi terdapat berbagai macam kemudahan untuk mendapatkan semua hal tersebut. Salah satunya adalah dengan olah raga. Dan olah raga yang sekarang sedang booming adalah olah raga kemasyarakatan yaitu senam aerobik. Hal ini bisa dibuktikan dengan antusiasme masyarakat setiap kali ada penyelenggaraan kegiatan senam aerobik bersama dari tingkat propinsi sampai tingkat RT.

Untuk itu, dalam rangka ikut memberikan ruang bagi publik untuk berolahraga dan memberikan suatu sarana untuk berkompetisi bagi masyarakat dalam bidang seni mewarnai dan seni tari modern (modern dance), belum lama ini PT Graha Padma Internusa menyelenggarakan kegiatan yang bertajuk ONE DAY WITH GRAHA PADMA Keep Healthy and Happy Sunday.

Acara yang diawali dengan senam massal tersebut ternyata mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat di sekitar Graha Padma. Tampak pada hari Minggu pagi itu berbagai lapisan masyarakat memenuhi area parkir Club House Perumahan Graha Padma, mulai dari anak-anak sampai kakek-nenek. Mereka dengan antusias mengikuti senam aerobik yang dipandu oleh instruktur Jinoth dari Jakarta dan dibantu oleh para punggawa dari Eristy Management. Setelah berjingkrak-jingkrak dan meliuk-liukkan tubuh dalam senam aerobik yang diiringi dengan musik yang rancak, para peserta melepas lelah sembari menyantap snack yang disediakan. Wajah mereka kelihatan berseri-seri. Ketika ditanya kenapa mereka sangat gembira, salah seorang dari mereka mengatakan, “Ya jelas hepi to Mas, lha wong cuma beli tiket cemban bisa ikut senam aerobik, udah instrukturnya cakep, gerakannya enak, dapet snack, masih ada doorprize-nya lagi. Kalau saya boleh usul, sering-sering aja Mas diadakan acara kayak gini.”

Lomba modern dance dan lomba mewarnai juga mendapat sambutan yang sangat antusias dari masyarakat. Hal ini terlihat dari membludaknya para peserta yang ikut ambil bagian dalam lomba tersebut. Untuk mengakomodasi para sponsor dan berbagai pihak yang ingin berpartisipasi dalam acara tersebut, disediakan pula mini bazaar.

Masyarakat benar-benar dimanjakan hari itu. Tampak puluhan anak-anak dengan tekun mewarnai gambar yang disediakan panitia. Di tempat lain, beberapa kelompok remaja tengah berlenggak-lenggok membawakan tarian modern karya mereka sendiri dengan diiringi musik pilihan mereka. Peserta yang lain jalan-jalan menyambangi stand-stand dalam mini bazaar. Mulai dari kuliner, buku, produk anak, sampai produk kesehatan.

Menjelang tengah hari acara yang ditunggu datang juga. Sebagian besar peserta dengan sabar menunggu pembagian door prize. Satu per satu hadiah diundi mulai dari hadiah kecil seperti setrika sampai hadiah besar seperti DVD player, televisi 21 inci, mesin cuci, dan lemari es. Peserta yang beruntung nampak berseri-seri membawa pulang hadiahnya.

Dengan diselenggarakannya kegiatan tersebut, diharapkan akan tercipta masyarakat yang sehat serta terjalinnya kebersamaan antar warga masyarakat baik warga Graha Padma maupun masyarakat di sekitar perumahan Graha Padma.

Bravo Graha Padma !


*Wisanggeni / Padma News

Anak Saya Minta Hape


Pertanyaan :

Saya adalah seorang ibu yang sedang mengalami kebingungan dalam menghadapi tuntutan anak sulung saya. Saya berharap Bapak dapat membantu memberi saran, pertimbangan atau masukan bagi saya untuk mengatasi masalah ini, karena suami juga sama bingungnya dengan saya, sehingga kami tidak bisa mengambil keputusan.

Masalah yang kami hadapi adalah anak sulung kami yang sedang duduk di kelas 3 SD minta untuk dibelikan HP (handphone). Ia bahkan sudah menentukan kualifikasi HP yang diinginkan, yaitu minimal yang berkamera dan ber3G. Bila tidak dibelikan anak saya mengancam tidak mau sekolah, karena malu dengan teman-temannya yang memiliki HP. Yang menjadikan kami bingung bukan hanya sekedar harganya yang mahal, tetapi juga dampaknya bagi anak, bila keinginannya dipenuhi.

(Ibu yang bingung, di Sampangan, Semarang)


Jawaban :

Saya bisa mengerti kebingungan yang Ibu dan Bapak alami dalam menghadapi tuntutan anak yang disertai ancaman seperti itu. Rasanya memang seperti buah simalakama; tidak dibelikan, anak tidak mau sekolah; dibelikan, harganya cukup mahal, sehingga mungkin memberatkan keuangan. Berdasar cerita Ibu, tampaknya keinginan anak Ibu untuk mempunyai HP lebih dipengaruhi oleh teman-temannya yang sudah memiliki HP. Akibatnya, ia ingin sama dengan teman-temannya, supaya ia juga diterima oleh kelompoknya. Di dunia psikologi hal ini disebut dengan konformitas. Bisa juga hal ini dipengaruhi oleh orang tua. Anak-anak kadang suka meniru perilaku orang tua, sehingga ia juga menginginkan HP agar sama dengan orang tuanya yang mempunyai HP. Kondisi ini dikenal sebagai identifikasi. Hal semacam ini memang bisa terjadi pada anak dan remaja.

Untuk memecahkan masalah ini ada beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan :

1. Kebutuhan anak.

Kebutuhannya berkomunikasi dan hal yang dikomunikasikan anak seusia anak Ibu masih belum membutuhkan peralatan secanggih yang diminta. Anak-anak seusia tersebut masih perlu belajar berinteraksi secara konkrit dengan teman-teman sebayanya. Ia masih membutuhkan komunikasi face to face untuk mengembangkan berbagai ketrampilan interaksi sosial lainnya. Dari sudut pandang ini, saya kira masih belum membutuhkan peralatan komunikasi yang canggih seperti yang diminta. Materi yang dikomunikasikan dengan orang tua atau teman masih lebih banyak seputar kegiatannya sehari-hari dan belum ada yang 'mendesak' untuk segera dikomunikasikan antar teman atau dengan keluarga. Meskipun demikian, tidak tertutup kemungkinan anak seusia itu sudah membutuhkan HP. Misalnya, karena kesibukan kedua orang tua yang bekerja, sehingga anak perlu berkomunikasi dengan orang tua dalam situasi mendesak tertentu atau agar orang tua dapat memantau kegiatan anak.

2. Perkembangan kepribadian anak.

Untuk perkembangan harga diri dan konsep diri, anak perlu belajar untuk mengenali kemampuan dan keterbatasan dirinya, supaya ia bisa mengembangkan harga diri dan konsep diri pada kemampuan yang dimiliki. Bila anak mengembangkan harga diri berdasarkan pada harta benda yang dimiliki, maka harga dirinya akan rapuh, karena materi yang bisa dijadikan tumpuan harga diri bisa hilang atau akan selalu berubah menurut perkembangan jaman. Padahal harga diri bisa mempengaruhi kesehatan mental seseorang; dalam arti kalau seseorang mempunyai harga diri yang positif tentang kemampuannya, kesehatan mentalnya akan lebih baik, dan sebaliknya.

3. Toleransi frustrasi.

Dalam perkembangannya, seorang anak juga perlu belajar mentoleransi frustrasi yang dialami. Pada dasarnya, seorang anak masih kurang bisa mentoleransi frustrasi yang dialami dan maunya semua keinginannya dipenuhi dengan segera. Bila orang tua selau memanjakan dengan memenuhi semua keinginan anak, maka anak tidak akan pernah belajar mentoleransi frustrasi. Akibatnya, anak kurang bisa mengendalikan keinginannya dan mudah kecewa bila keinginannya tidak terpenuhi.

4. Interaksi orang tua anak.

Agar keinginannya terpenuhi seorang anak akan berusaha dengan berbagai cara, diantaranya dengan berusaha 'menekan' orang tua dengan ancaman. Bila dengan cara ini anak berhasil memperoleh apa yang diinginkan, maka pada kesempatan yang lain ia akan mengulang cara tersebut untuk memperoleh keinginannya yang lain. Akibatnya, orang tua yang seharusnya mempunyai otoritas terhadap anak akan kehilangan otoritas tersebut. Sebaliknya, anaklah yang mempunyai otoritas terhadap orang tua untuk memenuhi tuntutannya.

5. Untuk mendapatkan sesuatu anak perlu berusaha terlebih dulu dan mau menanggung 'resiko'.

Hal ini untuk mengajarkan pada anak bahwa di dunia tidak ada yang gratis. Oleh karena itu, untuk memperoleh sesuatu perlu perjuangan terlebih dulu. Demikian pula, sesudah memperoleh apa yang diinginkan anak juga harus tahu konsekuensi apa yang harus dipenuhi. Misalnya untuk memperoleh HP yang diinginkan, anak perlu menunjukkan prestasi belajar yang baik terlebih dulu dan sesudah ia memperoleh HP ia harus rela uang sakunya digunakan untuk membeli pulsa agar HPnya berfungsi.

Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas saya harap Ibu bisa memperoleh pencerahan, sehingga bisa memutuskan memenuhi atau tidak permintaan anak Ibu. Hal penting lain yang perlu untuk Ibu ingat adalah cara menyampaikan keputusan tersebut (apapun keputusannya). Sebaiknya, anak diberi gambaran yang jelas tentang kondisi finansial orang tua, manfaat dari HP yang diinginkan anak, 'persyaratan' yang harus dipenuhi oleh anak, konsekuensi sesudah memiliki HP, dan pertimbangan-pertimbangan lain dari orang tua dalam mengambil keputusan.

Sebagai penutup, saya ingin mengingatkan Ibu tentang ajaran Ki Ageng Suryo Mentaram, yaitu bahwa keinginan bisa mulur atau mungret. Artinya, bila keinginan terpenuhi, maka ia akan mulur; sebaliknya, kalau tidak terpenuhi, maka ia akan mungret. Oleh karena itu, perlu kebijaksanaan tersendiri untuk memutuskan dipenuhi atau tidaknya keinginan kita agar tidak terlalu mulur atau agar tidak terlalu mungret.


Penulis : Drs. George Hardjanta, MSi
Staf Pengajar Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata Semarang

2.767 Trembesi Hijaukan Semarang - Kudus

Iwan Fals berpartisipasi dalam 'Djarum Trees for Life' (Sumber Foto : www.djarum.com)

Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo ikut menanam pohon Trembesi ( Sumber Foto : www.djarum.com)


Sebagai bagian dari program CSR (Corporate Social Responsibility) PT Djarum memfokuskan pada kepedulian terhadap lingkungan hidup. Dengan program bertajuk “Djarum Bakti Lingkungan” yang telah digelar sejak tahun 1979. Program yang dirintis dari Kota Kudus tersebut telah meluas ke berbagai kota dengan jumlah tanaman lebih dari satu juta bibit tanaman.

Dengan komitmen inilah, Djarum Bakti Lingkungan terus berusaha menanam pohon dan berperan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” ujar Thomas Budi Santoso, Direktur PT Djarum. Melalui Djarum Trees for Life, dia juga berharap 2.767 pohon trembesi dewasa dapat menyerap CO2 sebanyak 78.826.296 kg per tahun untuk mengurangi efek pemanasan global.

Pohon trembesi dipilih karena menurut Dr. Ir. H. Endes N. Dahlan, dosen Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, mampu mengatasi efek pemanasan global karena memiliki daya serap gas CO2 yang sangat tinggi. Satu batang pohon trembesi mampu menyerap 28,5 ton gas CO2 setiap tahunnya (dengan diameter tajuk 15 meter). Selain itu trembesi yang sangat teduh (mempunyai bentangan hingga 30 meter) dan dapat hidup selama 100 tahun mampu menurunkan konsentrasi gas secara efektif sehingga bisa menurunkan suhu sebesar 3 sampai 4 derajad Celsius, menjadi tanaman penghijauan yang bagus karena akarnya yang kokoh sehingga tidak mudah tumbang, mempunyai kemampuan kuat menyerap air tanah, serta unggul dalam karbondioksida.

Penanaman trembesi di sepanjang turus jalan Semarang Demak dan semangat pelestarian lingkungan Djarum Trees for Life telah meluas dan didukung oleh seluruh lapisan masyarakat. Mulai dari para pejabat penting seperti Gubernur Jateng H. Bibit Waluyo, Kapolda Jateng saat itu Irjen (Pol) Alex Bambang Riatmodjo, dan Bupati Demak Drs. H. Tafta Zani, MM; para artis ibukota seperti Iwan Fals, Nidji, Nugie, Luna Maya; juara Olimpiade 2004 Alan Budikusuma, Susi Susanti dan Haryanto Arbi; kalangan LSM serta 400 karyawan PT Djarum.

Selain melakukan penanaman pohon, mereka juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan seperti membuang sampah pada tempatnya, menjaga lingkungan rumah tetap bersih dan menanam pohon di lahan kosong.

Seluruh ajakan masyarakat ini sejalan dengan semangat Djarum Trees for Life yang ingin melestarikan lingkungan hidup yang berkualitas. Penanaman pohon merupakan langkah awal yang dapat dilakukan setiap orang untuk membantu mengatasi masalah pemanasan global pelestarian lingkungan. Program Djarum Trees for life akan terus dilanjutkan dan meluas ke daerah lain. PT Djarum tidak akan pernah berhenti menjaga komitmen ini, demi terwujudnya negeri nyaman lestari, serta kualitas hidup yang lebih baik untuk anak cucu nanti.


*Disarikan dari advertorial di harian Suara Merdeka, 5 Juni 2010 / Padma News

Kamar Tidur Utama

Kamar tidur utama untuk suami dan istri yang biasanya juga berfungsi untuk berganti pakaian dan berdandan/rias dan juga kamar mandi harus diposisikan dengan benar untuk menarik Feng shui yang baik.


Delapan arah umum untuk kamar tidur utama baik yang memiliki chi yang baik atau buruk dijelaskan di bawah ini:


Chi daya hidup : pasangan akan menjadi dekat, saling mencintai, sukses dan bahagia.

Chi keberuntungan : pasangan akan saling mengerti satu sama lain dan keluarga akan bahagia.

Chi halus : pasangan akan berusaha dan melakukan hal-hal bersama.

Chi naik turun : pasangan akan saling mencintai tapi akan menyimpan rahasia satu sama lain.

Chi sial : pasangan akan bekerja bersama tapi keberhasilan usaha mereka tidaklah pasti.

Chi jahat : pasangan akan bekerja bersama tapi usahanya akan selalu berakhir dengan kegagalan.

Chi mencekik : pasaangan akan saling mencintai tapi salah satunya akan sering mengalami gangguan kesehatan/sakit.

Chi mati : pasangan akan sering bertengkar, cinta mereka lama kelamaan akan hilang sampai pada suatu saat mereka tidak akan saling mempedulikan satu sama lain dan berhenti berkomunikasi.


Biasanya lebih mudah menarik kekeuatan vital atau chi baik bagi kamar tidur utama yang terletak di lantai dasar dibandingkan dengan yang terletak di lantai atas. Akan tetapi selalu berkonsultasilah dengan geomancer untuk memastikan bahwa chi yang baik mengalir dalam kamar tidur. Dengan chi yang baik, pasangan diharapkan akan bisa waspada, sehat, punya banyak anak dan makmur. Chi yang buruk atau tercerai-berai dalam kamar tidur akan dapat menyebabkan rasa mengantuk dan malas, kesehatan yang buruk, tidak punya anak atau hanya punya sedikit anak, dan kesulitan dalam mencari nafkah.

Berikut ini adalah panduan mengenai kamar tidur utama dan berbagai fiturnya:


Kamar Tidur

1. Atap tidak boleh memiliki bukaan yang memungkinkan sinar matahari masuk ke dalam kamar tidur utama.

2. Tidak boleh ada jendela bundar.

3. Langit-langit tidak boleh mempunyai desain berlebihan yang tidak perlu.

4. Bentuknya harus beraturan dan tidak boleh mempunyai terlalu banyak sudut.

5. Lantainya tidak boleh lebih rendah daripada lantai kamar mandi/toilet.

6. Rak-rak di dalam kamar tidur utama tidak disarankan.

7. Tidak boleh ada gambar atau lukisan yang berhubungan dengan pemandangan air.

8. Jangan menaruh aquarium di dalam kamar tidur utama.


Pintu Kamar Tidur

1. Pintu tidak boleh menghadap cermin.

2. Pintu tidak boleh menghadap sudut kamar.

3. Pintu tidak boleh menghadap pintu kamar lain.

4. Pintu tidak boleh menghadap pintu kamar mandi/toilet.

5. Pintu disarankan terbuka ke arah sisi naga.

6. Pintu tidak boleh mengahadap tangga.


Meja Rias

1. Meja rias tidak boleh menghadap pintu kamar tidur.

2. Meja rias tidak boleh ditempatkan di kedua ujung tempat tidur.

3. Meja rias tidak boleh ditempatkan di bawah tulangan plafon atau di samping tiang.

4. Meja rias tidak boleh menghadap wc.

5. Meja rias tidak boleh menghadap cermin lain.


(Disarikan oleh Sakti Prabowo / PadmaNews)


Sumber: Authentic Feng Shui, Practical Geomatric Analysis for Modern Living, Rev. Victorio Hua Wong Seng Tian, 1995

mBah Padmo

BAHASA INGGRIS DALAM KONTEKS 'BALI NDESO MBANGUN DESO'



Slogan 'Bali Ndeso Mbangun Deso' yang dicanangkan oleh Gubernur Jawa Tengah H. Bibit Waluyo, dapat kita sikapi sebagai ideologi yang jika berhasil, dapat menjadi apa yang disebut oleh Roland Barthes (1957) sebagai 'mitos', yang mempengaruhi perilaku dan perikehidupan sehari-hari masyarakat Jawa Tengah. Namun sebelum ke sana, jika kita cermati, ada dua aspek ideologi yang melekat dalam slogan tersebut. Dari aspek negatif, ideologi yang melekat adalah 'keterbelakangan', 'ketidakmauan untuk maju', 'melarang orang mencari nafkah di tempat lain yang lebih maju (boro)', 'mendukung slogan “mangan ora mangan yen kumpul” (makan tidak makan, asal tetap bersama di daerah)', 'mengutamakan individu kedaerahan, tidak nasionalis', dsb, dsb. Sementara itu, ideologi positifnya, di antaranya, adalah 'Memikirkan pembangunan desa, setelah menimba ilmu dan atau keterampilan di tempat lain yang lebih maju', 'Bersama-sama mengembangkan dan membangun desa tempat kelahiran kita', 'Memberdayakan desa-desa yang selama ini tertinggal', 'Mengangkat sikap, karya, dan produk desa ke tingkat global' dsb, dsb. Dalam konteks ideologi positif tersebut di atas, wacana ini penulis komunikasikan, utamanya adalah posisi bahasa Inggris dalam konteks 'Bali Ndeso Mbangun Deso'. Bagaimana kita seharusnya menyikapi penggunaan bahasa Inggris?

Deso' atau 'desa' adalah unit pemerintahan formal terkecil di Indonesia. Unit ini jika kita akui di dalam dunia moderen ini, sudah kehilangan batas teritori non-fisiknya, apalagi di dunia cybertext sekarang ini. Radio, televisi, dan bahkan internet, sudah ada baik di desa perkotaan maupun desa pelosok jauh dari keramaian. Apa yang membedakan perkembangannya? Ternyata satu hal: teks berbahasa Inggris. Pemahaman terhadapnya, atau pun kemampuan memproduksi teks tersebut adalah faktor kunci. Bahasa Inggris adalah bahasa komunikasi internasional, yang mau tidak mau (willy nilly) harus dihadapi, baik oleh individu desa perkotaan maupun individu desa terpencil.

Ada dua aspek bahasa Inggris yang selama ini dilupakan orang. Sebagai bahasa impor, bahasa Inggris telah menjadi 'momok' karena kesalahan kurikulum kita yang menuntut guru mengajarkan aspek potensial, bukan aspek aktual. Kurikulum menjadikan guru bahasa Inggris sebagai 'dewa', dan kesalahan siswa dalam belajar sebagai 'dosa' yang terus menghantui. Selama beberapa puluh tahun ke belakang, pengajaran telah diarahkan ke aspek formal, bukan fungsional. Padahal apabila bahasa Inggris diajarkan dari aspek fungsional, 'momok' tidak akan terjadi, dan kita akan lebih berani. Bagaimana bahasa Inggris harus disikapi dalam slogan di atas oleh kita orang 'ndeso'?

Pertama, masyarakat Jawa Tengah perlu menyikapi bahwa aspek fungsional dari bahasa Inggris jauh lebih penting daripada aspek formalnya. Sisi fungsional adalah sisi budaya atau pragmatiknya. Sisi formal adalah sisi gramatikal. Kesalahan budaya adalah fatal, sementara kesalahan gramatikal, tidak masalah. Penutur jati (native speakers) pun akan tinggi toleransinya kepada kita apabila gramatika kita salah. Tetapi mereka akan tersinggung atau merasa aneh jika aspek budaya mereka tidak dihiraukan. Pemahaman atas salam di malam hari 'Good evening!' (bertemu) dan 'Good night!' (berpisah) jauh lebih penting daripada, misalnya, menghafal pola kala (tenses). Kata-kata yang mengandung aspek budaya dan berkolokasi dengan 'rasa' misalnya 'taste', 'feel', 'think', 'touch', 'smell', 'like', 'enjoy', dsb, perlu kita ketahui penggunaannya. Sehingga tidak terjadi penggunaan yang 'aneh', misalnya “Lets feeling it!” (tulisan dalam boks fried chicken di sebuah restoran di Jakarta). Tulisan tersebut mengajak kita untuk menikmati ayam goreng, yang seharusnya 'Let's taste it' atau 'Let's enjoy it!'. Kita lihat kesalahan aspek fungsional pada kata 'feel' jauh lebih berisiko pragmatis daripada kesalahan aspek formalnya (kurangnya tanda ' dan sufik ing yang tidak perlu). Berbagai kesalahan juga terjadi di belahan dunia lain, di negara yang bukan berbahasa Inggris. Misalnya: 'You are invited to take advantage of the chambermaid' ('Anda diminta memanfaatkan pelayan kamar'?; tulisan di sebuah hotel di Jepang), seharusnya, misalnya: 'Please ask the chambermaid for help!' Dari contoh tersebut, yang seharusnya kita takuti adalah aspek budaya, bukan aspek gramatika yang selama ini menakutkan kita.

Aspek budaya lain yang ada dalam bahasa Inggris adalah budaya aktif. Dalam berbahasa, masyarakat Indonesia, termasuk masyarakat Jawa Tengah, kita menggunakan budaya pasif. Contohnya: 'Silahkan diminum!', 'Bingkisan itu telah diterima', atau 'Tangannya patah'. Dalam budaya Inggris, penutur jati cenderung mengucapkan: 'Please drink!', 'They have received the package', atau 'He broke his arm'. Dengan pengetahuan ini, kita harus berpikir dalam budaya Inggris jika kita menerjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, atau sebaliknya, kita harus berpikir dalam budaya Indonesia jika kita menerjemahkan bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Dengan budaya aktif inilah, sebaiknya kita lebih menekankan keterampilan aktif memproduksi bahasa Inggris, yaitu: berbicara dan menulis (encoding), tetapi tidak melupakan keterampilan pasif memahami bahasa Inggris, yaitu: menyimak dan membaca (decoding) (baca: Jumanto, Suara Merdeka, 2008).

Yang kedua, masyarakat Jawa Tengah perlu belajar bahasa Inggris dari konteks kehidupan di sekitar mereka dan yang perlu mereka dalami untuk kegiatan sehari-harinya, bukan belajar gramatika dari buku atau pun menghafal kata dari kamus. Dalam hal ini, ungkapan yang lebih santun lebih baik daripada yang informal. Penggunaan pertanyaan atau permintaan dengan 'could', 'would', ataupun 'would like' lebih baik daripada 'can', 'will', ataupun 'want'. Misalnya: 'Could I help you?', 'Would you buy something?', ataupun 'I would like you to see this', dsb, yang lebih baik daripada, misalnya, 'Can I help you?', 'Will you buy something?', ataupun 'I want you to see this', demikian juga dalam bahasa surat-menyurat. Dalam hal ini, komunikasi di arahkan ke kesantunan berbahasa dengan penutur jati, meskipun kadang gramatika kita salah, tidak perlu kita resah.

Bahasa Inggris dalam konteks 'Bali Ndeso Mbangun Deso' adalah cara pandang kita untuk menggunakan bahasa Inggris secara tepat. Dengan slogan ini, konteks 'GloCal' (= Think Global, Act Local) sangat tepat diterapkan. Orang Jawa Tengah memiliki keunikan lokal dalam bersikap, berkarya, dan berproduksi. Sikap, karya, dan produk tersebut boleh bersifat lokal, tetapi kualitas dan pasar dari sikap, karya, dan produk tersebut haruslah global. Memang dari wacana di atas, slogan 'Bali Ndeso Mbangun Deso' lebih tepat diterapkan di semua propinsi di Indonesia untuk menghadapi dunia. Mungkin nanti jika Gubernur Jawa Tengah berhasil membuat ideologi positif dalam slogan tersebut menjadi mitos sehari-hari, propinsi-propinsi lainnya pasti mengikuti. Semoga.

* Penulis adalah warga Taman Anyelir L-9 No.1, Perum Graha Padma, Semarang